Kiat Mengajak Muslimah
Berjilbab
"Bagaimana cara menyikapi para
muslimah yang belum sempurna menutup auratnya?"
1. Bijak Menyikapi Kekurangan Orang Lain
Bagaimana mengajak saudara, teman, dan para
muslimah di sekitar kita berjilbab? Atau setidaknya, bagaimana cara menyikapi para
muslimah
yang belum sempurna menutup auratnya? Sebelum menjawab semua itu, kita
mencoba mengupayakan bagaimana kiat untuk bijak menyikapi kekurangan
orang lain.
Pertama, Bersyukur kepada Allah SWT, jika kita tak
memiliki kekurangan yang serupa dengan orang yang kita saksikan
kekurangannya. Sesungguhnya, kita terhindar dari kekurangan itu pun pada
hakekatnya adalah karunia-Nya.
Kedua, Berlindung kepada Allah SWT dari memiliki kekurangan yang
serupa. Jika bukan karena perlindungan Allah, belum tentu kita
terhindar dari keadaan semacam itu.
Ketiga, Doakan orang yang
memiliki kekurangan agar berubah menjadi lebih baik. Doakan pula orang
yang berbuat salah agar dibimbing Allah bertaubat dan memperbaiki diri.
Keempat,
Sampaikan dakwah kepadanya. Informasikan manfaat setiap amal yang kita
perbuat. Informasikan kerugian dan dampak buruk yang dialami oleh diri
kita sendiri, juga oleh orang di sekitar kita akibat dari apa yang kita
perbuat. Bisa jadi seseorang berbuat salah, karena belum mengetahui hal
itu salah atau belum tahu akibat buruk perbuatannya. Kiat diatas dapat
digunakan bila melihat para
muslimah yang cara berpakaiannya atau cara berhijabnya masih belum sempurna, misalnya;
* Pertama, jika kita telah sempurna menutup aurat, maka bersyukurlah
kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi ujub (bangga diri) dan sombong
(merasa diri lebih baik atau lebih shalehah). Sesungguhnya, kita bisa
menutup aurat dengan baik karena rahmat dan karunia Allah. Jika Allah
tidak membimbing, belum tentu kita berbuat lebih baik.
* Kedua,
Senantiasa berlindung kepada Allah dari cara berpakaian yang tak
disukai-Nya. Ini kisah nyata, saya pernah melihat seorang
muslimah yang pakaiannya sangat terjaga, kemudia ia memperbincangkan sekelompok
muslimah yang pakaiannya belum sempurna. Sayangnya, tak berapa lama, ia pun berpakain seperti para
muslimah
yang ia perbincangkan. Artinya, bila tidak berlindung kepada Allah,
bisa saja suatu saat kita enggan menyempurnakan penutup aurat kita.
Naudzubillahi mindzalik.
* Ketiga, Doakan saudara kita yang belum
sempurna cara menutup auratnya agar segera menyempurnakannya. Jangan
sampai kita menyebarkan aib dan ghibah, karena semua itu tidak membuat
menjadi bertaubat atau menjadi lebih baik. Bahkan perbuatan itu hanya
menambah dosa bagi kita.
* Keempat, Informasikan terhadap para
muslimah yang belum menutup aurat dengan sempurna tentang manfaat memakai
jilbab
dengan benar. Dalam menginformasikan, kita bisa menggunakan kiat-kiat
yang pernah disampaikan Aa Gym, seperti kita untuk sebuah perubahan
dengan 3 M nya (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, Mulai
saat ini juga), serta kiat berdakwah dengan menggunakan formula 3 A
(Aku bukan ancaman bagimu, Aku menyenangkan bagimu, dan Aku bermanfaat
bagimu).
"Jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka, ini justru
hutang kita kepada mereka. Bisa jadi, hal ini justru kesalahan kita
akibat kelalaian kita dalam beramar ma’ruf."
2. Menyampaikan Ilmu
Orang-orang yang lahir di lingkungan baik, tentu tata nilainya
tidak sama dengan orang-orang yang lahir di lingkungan yang kurang baik.
Begitu pula para
muslimah
lahir di lingkungan kurang kondusif, mungkin tak pernah merasa malu dan
bersalah jika auratnya tak tertutup sempurna, karena sejak kecil tidak
terbiasa melihat para wanita di lingkungan keluarganya menutup aurat
dengan baik.
Berbeda dengan wanita yang lahir di lingkungan
moralis, misalnya di lingkungan para pendidik, pesantren, atau di
lingkungan orang-orang saleh , maka ia akan merasa malu, terhina dan
merasa bersalah jika auratnya tak terjaga.
Upaya amar ma’ruf
nahyi munkar harus dimulai dengan penyampaian ilmu. Paksaan untuk
melakukan kebaikan boleh dilakukan jika ilmu telah disampaikan dengan
upaya maksimal.
Ambil contoh, suatu saat pernah ada seorang mualaf yang ingin masuk islam, tapi tidak mau melaksanakan
shalat, kemudian Rasul SAW membiarkannya masuk Islam dan tidak memaksanya melaksanakan
shalat. Setelah ia memahaminya, seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman yang dilaluinya, akhirnya ia mau mengerjakan
shalat.
Jika
tidak, maka kita bagai memaksa orang yang tidak bisa berenang untuk
mencapai tempat tujuan dengan berenang. Bagaimana mungkin ia bisa sampai
di tujuan, bila tidak bisa berenang. Langkah awal yang harus dilakukan
adalah mengajarinya berenang agar tahu bagaimana cara mengambang,
bergerak, dan berjalan di permukaan air, kemudian ia harus gigih
berlatih secara sistematis dan berkesinambungan.
Jika ia sudah
pandai berenang, tapi tidak mau menjalankan tugas dan kewajibannya untuk
mencapai tujuan itu, barulah dia boleh dipaksa.Kalau kita masih
menyaksikan banyak para
muslimah
yang belum sempurna menutup auratnya, pertanyaannya adalah sejauh mana
kita telah mensosialisasikan dan membuat mereka paham tentang bagaimana
cara berpakaian yang paling disukai Allah.
Oleh karena itu,
jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka, ini justru hutang kita kepada
mereka. Bisa jadi, hal ini justru kesalahan kita akibat kelalaian kita
dalam beramar ma’ruf, hingga hak mereka untuk mendapatkan ilmu tertahan
oleh kemalasan dan keenganan kita berdakwah.
Selain itu, setiap
orang juga harus melakukan instropeksi diri, ”Seberapa banyak ilmu yang
sudah saya dapatkan, hingga sejauh mana saya harus mengamalkan ilmu yang
telah saya dapatkan itu?” atau, “Apakah karena ilmu saya memang masih
sangat sedikit, hingga belum mau menggunakan penutup aurat yang
sempurna?” Jika demikian, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk
mengetahui dan memahami tentang bagaimana cara berpakaian yang paling
disukai Allah.
Bagaimana seharusnya para
muslimah
menutup auratnya? Setidaknya sebagai berikut. Pertama, tertutup seluruh
tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (untuk menutupi permukaan yang
termasuk aurat). Kedua, tidak transparan (untuk menghilangkan
penampakannya). Ketiga, tebal, artinya tidak tipis (untuk menghilangkan
bentuk aurat). Keempat, warna tidak terlalu mencolok atau terlalu banyak
hiasan (agar tidak terlalu menarik perhatian lelaki yang bukan mahram).
Kelima, hindari wewangian yang terlalu semerbak.
Semoga Allah Yang Mahaagung mengaruniakan rasa syukur pada diri kita dan melindungi kita dari berpakaian yang tak disukai-Nya.
"Menyampaikan ilmu atau menganjurkan kebaikan kepada orang lain itu ibarat mengepel lantai sebuah ruangan."
3. Awali dari diri
Dalam sebuah diskusi, seorang peserta yang belum berjilbab
mengungkapkan isi hatinya sebagai berikut. Ia memiliki seorang teman
yang sudah berjilbab dan sering mengajaknya mengenakan
jilbab. Tapi,
muslimah yang sudah berjilbab ini akhlaknya kurang baik, dia masih kurang menjaga
hijab dengan lawan jenisnya, bahkan dia masih suka berpacaran dan seringkali menunjukkan sikap yang kurang baik.
Akhirnya,
ia memilih untuk tidak berjilbab asalkan bisa menjaga dirinya, dari
pada berjilbab tapi akhlaknya masih buruk. Bahkan, seringkali dia
antipati melihat wanita berjilbab yang belum dikenalnya.
Artinya,
setiap kali kita akan berdakwah, bertanyalah pada diri, “Apa yang akan
saya sampaikan sudah sesuai atau belum dengan apa yang saya lakukan?”
atau setidaknya, “Apakah saya sudah berupaya secara maksimal untuk
mengamalkan apa yang akan saya sampaikan?” atau, “Apakah perbuatan dan
akhlak saya sudah mendukung apa yang akan saya sampaikan?”
Menyampaikan
ilmu atau menganjurkan kebaikan kepada orang lain itu ibarat mengepel
lantai sebuah ruangan. Diri kita itu ibarat lap pel, sedangkan yang
orang lain itu ibarat lantai. Lap pel harus bersih, jika tidak, maka
ruangan itu akan bertambah kotor. Bayangkan, bila kita mengepel lantai
kamar kita dengan lap pel bekas mencuci kotoran. Hasilnya, bukan
membersihkan kamar, tapi malah mengotorinya
Begitupula halnya dengan kasus diatas. Karena
muslimah
berjilbab yang mengajaknya itu belum sanggup memberikan contoh yang
nyata buat temannya, maka akhirnya temannya itu bukannya segera ingin
berjilbab, tapi malah mendapatkan citra yang tidak tepat tentang wanita
berjilbab. Akhirnya, dakwahnya bukannya membuat temannya menjadi berubah
menjadi lebih baik, tetapi malah membuatnya makin jauh dari
pemahamannya tentang islam, bahkan mungkin makin jauh dari Allah.
Karenanya, awalilah dari diri sendiri.Sering juga timbul pertanyaan,
“Mana yang lebih baik, wanita yang berjilbab tapi akhlaknya buruk atau
wanita yang belum berjilbab tapi akhlaknya lebih terjaga”.
Kita
jadi teringat kisah Buya Hamka ketika beliau ditanya seseorang, “Buya,
saya memiliki tetangga, yang satu seorang insinyur yang tidak suka
shalat tetapi akhlaknya baik. Yang satunya lagi seorang
haji yang suka
shalat, tetapi akhlaknya buruk. Mana yang lebih baik diantara mereka?”
Beliau menjawab, “Insinyur itu, belum suka
shalat saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau beliau rajin
shalat. Sedangkan Pak
Haji itu, syukur beliau suka
shalat. Kalau tidak suka
shalat, mungkin akhlak beliau lebih buruk dari itu.”
Kisah
ini bisa kita analogikan untuk pertanyaan diatas. Akhwat yang belum
berjilab itu, belum berjilbab saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau
dia sudah bejilbab. Akhwat yang sudah berjilbab itu, syukur dia sudah
berjilbab. Jika tidak, sudah akhlaknya kurang baik, tidak berjilbab
juga.
Konon, disekitar Masjidil haram ada para wanita amoral yang
bercadar. Tentu, tidak logis sama sekali jika kita langsung antipati
melihat wanita bercadar. Kalau kita bandingkan, jumlah wanita shalehah
yang berjilbab jauh lebih banyak dibandingkan wanita shalehah yang belum
berjilbab.
Pakaian memang bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan kemuliaan akhlak seseorang.
Muslimah yang pakaiannya sempurna belum tentu akhlaknya baik, tetapi
muslimah
yang berakhlaq baik pasti akan makin sempurna cara menutup auratnya.
Makin sempurna cara akhwat menutup aurat, makin tinggi peluang akhwat
berakhlak baik. Sebaliknya, makin tidak sempurna cara akhwat menutup
auratnya, makin tinggi peluang akhwat berakhlak buruk.
Jadi,
kalau ada akhwat yang sudah berjilbab tetapi akhlaknya kurang baik, maka
solusinya adalah ia harus memperbaiki akhlaknya, bukan berarti ia harus
melepaskan atau mengurangi kesempurnaannya berhijab. Sebaliknya, bila
ada akhwat akhlaknya baik tetapi belum berjilbab, maka ia tetap harus
menyempurnakan hijabnya, karena meyempurnakan
hijab adalah kewajiban setiap
muslimah.
Jadi, kiat untuk mengajak para
muslimah
berjilbab setidaknya adalah, pertama, bijjak menyikapi kekurangan
mereka. Kedua, sampaikan ilmu kepada mereka. Ketiga, awali dari diri.
Semoga
Allah SWT mengaruniakan kemampuan kepada kita untuk menutup aurat
dengan sempurna, ikhlas karena Allah semata. Amin Yaa Rabbal aalamiiin.
WAllahu‘alam bishawab.
Oleh : Siti Tri Zakiyah(Sumber: CyberMQ)