Yasser Arafat dilahirkan dengan nama Mohammed Abdel-Raouf Arafat bin Qudwa al-Hussaeini. Ayahnya adalah seorang pedagang tekstil keturunan Palestina dan Mesir, ibunya berasal dari keluarga Palestina di Yerusalem. Yasser adalah panggilan Arafat semasa kecil.
Ibunda Yasser meninggal ketika dirinya berusia lima tahun. Yasser kecil kemudian dikirim untuk tinggal bersama paman dari pihak ibu di Yerusalem, ibukota Palestina.
Pada usia 17 tahun, Yasser pernah menyelundupkan senjata bagi warga Palestina di Kairo, ia melakukan hal tersebut untuk membebaskan saudara sebangsanya dari cengkraman Yahudi dan Inggris kala itu. Pada usia 19 tahun, Yasser turun langsung memerangi Yahudi di jalur Gaza. Ia rela meninggalkan kuliahnya untuk membela tanah tumpah darahnya itu.
Tapi akhirnya Israel berhasil meemnangkan perang tersebut. Yasser yang kecewa kembali mengejar mimpinya di bangku kuliah. Ia mengurus visa dan berkuliah di Texas, Amerika. Lambat laun, semangat Yasser pulih. Ia pun kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Faud, yang dulu ditinggalkannya demi bela negara.
Pada usia 26 tahun, Yasser lulus kuliah. Ia pun mendirikan perusahaan kontraktor yang dikelolanya sendiri. Keuntungan perusahaan tersebut dia gunakan untuk membiayai kegiatan politiknya.
Pada tahun1958, Yasser dan teman-temannya mendirikan Al-Fatah, jaringan rahasia gerakan bawah tanah, dimana pada 1959 mulai menerbitkan majalah yang menganjurkan perang melawan Israel dengan senjata. Akhir 1964, Yasser meninggalkan Kuwait untuk menjadi seorang revolusioner. Ia membantu mengorganisir serangan Fatah ke Israel dari Yordania.
Fatah mengambil alih organisasi itu pada 1969 ketika Yasser menjadi ketua komite eksekutif PLO. PLO tidak lagi menjadi organisasi boneka negara-negara Arab, yang menginginkan agar warga Palestina tetap diam, melainkan menjadi organisasi nasionalis independen yang berpusat di Yordania.
Yasser membangun PLO menjadi sebuah ‘negara’ yang memiliki kekuatan militer sendiri dalam negara Yordania. Raja Hussein dari Yordania, sangat terganggu dengan serangan-serangan gerilya dan metode kekerasan lainnya yang mereka lakukan terhadap Israel, hingga pada akhirnya ia mengusir PLO keluar dari negaranya. Arafat mencari jalan membangun organisasi yang sama di Lebanon, tetapi tersingkir oleh pendudukan militer Israel. Ia berjuang mempertahankan organisasi itu tetap hidup, dengan memindahkan markas besarnya ke Tunisia.
Periode setelah pengusiran dari Lebanon merupakan masa sulit bagi Arafat dan PLO. Lalu gerakan protes Intifada mendorong Yassert untuk menarik perhatian dunia terhadap kesulitan yang dihadapi Palestina. Maka Yasser mengubah kebijakannya. Pada 1988 , dalam pidatonya di PBB di Jenewa, Swiss, ia menyatakan bahwa PLO menolak aksi terorisme dan mendukung “hak semua kelompok yang bertikai di Timur Tengah untuk hidup damai dan aman, termasuk negara Palestina, Israel dan negara-negara tetangga”.
10 tahun setelah menerima gelar prestisius tersebut, Yasser meninggal dunia. Sebelumnya, pria dengan penampilan khas ini mengalami sakit parah yang membuatnya harus diterbangkan ke sebuah RS militer di Prancis. Tim medis gabungan tidak dapat menyimpulkan penyebab kematian Yasser. Pada laporannya, mereka hanya menyebutkan adanya ‘pendarahan otak yang hebat’ dan ‘misterius’. Namun pada perkembangannya, ditemukan fakta baru bahwa Yasser dibunuh dengan sejenis racun bernama Thallium. Ia meninggal pada usia 75 tahun.
Profil singkat Yasser Arafat:
Nama lengkap : Mohammed Yasser Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini
Nama beken : Yasser Arafat
Tempat / Tanggal lahir : Kairo / 24 Agustus 1929
Gelar : Nobel Perdamaian 1994
Jabatan terakhir : Presiden Palestina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar