Rabu, 09 Mei 2012

REKAM JEJAK PERJUANGAN YESSER ARAFAT



Yasser Arafat dilahirkan di Kairo, 82 tahun yang lalu. Ia adalah Presiden pertama sekaligus tokoh pendiri negara Palestina. Yasser Arafat menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 2004.
Yasser Arafat dilahirkan dengan nama Mohammed Abdel-Raouf Arafat bin Qudwa al-Hussaeini. Ayahnya adalah seorang pedagang tekstil keturunan Palestina dan Mesir, ibunya berasal dari keluarga Palestina di Yerusalem. Yasser adalah panggilan Arafat semasa kecil.

Ibunda Yasser meninggal ketika dirinya berusia lima tahun. Yasser kecil kemudian dikirim untuk tinggal bersama paman dari pihak ibu di Yerusalem, ibukota Palestina.
Sedikit yang diketahui tentang masa kecil Arafat, namun satu hal yang tak bisa dilupakannya adalah ketika tentara Inggris menyerbu masuk ke rumah pamannya dan memukuli anggota keluarganya. Setelah empat tahun menghabiskan waktu di Yerusalem, ayah Yasser memboyongnya kembali ke Kairo, dimana ia menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan dijaga oleh kakak-kakak kandungnya. Yasser dan sang ayah tidak memiliki hubungan yang baik. Bahkan ia menolak menghadiri pemakaman ayahnya pada tahun 1952.
Pada usia 17 tahun, Yasser pernah menyelundupkan senjata bagi warga Palestina di Kairo, ia melakukan hal tersebut untuk membebaskan saudara sebangsanya dari cengkraman Yahudi dan Inggris kala itu. Pada usia 19 tahun, Yasser turun langsung memerangi Yahudi di jalur Gaza. Ia rela meninggalkan kuliahnya untuk membela tanah tumpah darahnya itu.
Tapi akhirnya Israel berhasil meemnangkan perang tersebut. Yasser yang kecewa kembali mengejar mimpinya di bangku kuliah. Ia mengurus visa dan berkuliah di Texas, Amerika. Lambat laun, semangat Yasser pulih. Ia pun kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Faud, yang dulu ditinggalkannya demi bela negara.
Namun Yasser memang seorang pemimpin sejati, alih-alih kuliah, ia malah lebih sering terlibat dalam demonstrasi mahasiswa Palestina. Ia menjadi pemimpin gerakan-gerakan mahasiswa tersebut.
Pada usia 26 tahun, Yasser lulus kuliah. Ia pun mendirikan perusahaan kontraktor yang dikelolanya sendiri. Keuntungan perusahaan tersebut dia gunakan untuk membiayai kegiatan politiknya.
Pada tahun1958, Yasser dan teman-temannya mendirikan Al-Fatah, jaringan rahasia gerakan bawah tanah, dimana pada 1959 mulai menerbitkan majalah yang menganjurkan perang melawan Israel dengan senjata. Akhir 1964,  Yasser meninggalkan Kuwait untuk menjadi seorang revolusioner. Ia membantu  mengorganisir serangan Fatah ke Israel dari Yordania.
Pada tahun yang sama pula, berdirilah Palestine Liberation Organisation (PLO), yang disponsori oleh Liga Arab, mengumpulkan semua kelompok agar bersatu membawa Palestina menjadi negara merdeka. Sikap Arab lebih bersifat kebijakan mendamaikan dibandingkan kebijakan Fatah, tetapi setelah kekalahan mereka melawan Israel tahun 1967 dalam perang selama enam hari, Fatah bangkit dari bawah tanah sebagai kelompok paling kuat dan terstruktur dengan baik dibandingkan kelompok-kelompok lainnya yang membentuk PLO.
Fatah mengambil alih organisasi itu pada 1969 ketika Yasser menjadi ketua komite eksekutif PLO. PLO tidak lagi menjadi organisasi boneka negara-negara Arab, yang menginginkan agar warga Palestina tetap diam, melainkan menjadi organisasi nasionalis independen yang berpusat di Yordania.
Yasser membangun PLO menjadi sebuah ‘negara’ yang memiliki kekuatan militer sendiri dalam negara Yordania. Raja Hussein dari Yordania, sangat terganggu dengan serangan-serangan gerilya dan metode kekerasan lainnya yang mereka lakukan terhadap Israel, hingga pada akhirnya ia mengusir PLO keluar dari negaranya. Arafat mencari jalan membangun organisasi yang sama di Lebanon, tetapi tersingkir oleh pendudukan militer Israel. Ia berjuang mempertahankan organisasi itu tetap hidup, dengan memindahkan markas besarnya ke Tunisia.
Selanjutnya, kehidupan Yasser adalah sebuah petualangan tanpa akhir. Ia kerap berpindah dari negara yang satu ke negara yang lain untuk mempromosikan Palestina. Selalu menjaga agar gerakannya tetap bersifat rahasia, sama seperti yang dia lakukan terhadap kehidupan pribadinya. Pada periode tersebut berulang kali Yasser lolos dari maut yang mengincarnya, mulai dari kecelakaan pesawat hingga penyakit stroke tak mampu merenggut nyawanya.
Periode setelah pengusiran dari Lebanon merupakan masa sulit bagi Arafat dan PLO. Lalu gerakan protes Intifada mendorong Yassert untuk menarik perhatian dunia terhadap kesulitan yang dihadapi Palestina. Maka Yasser mengubah kebijakannya. Pada 1988 , dalam pidatonya di PBB di Jenewa, Swiss, ia menyatakan bahwa PLO menolak aksi terorisme dan mendukung “hak semua kelompok yang bertikai di Timur Tengah untuk hidup damai dan aman, termasuk negara Palestina, Israel dan negara-negara tetangga”.
Prospek ke arah perjanjian damai dengan Israel mulai cerah. Setelah kemunduran akibat keputusan PLO mendukung Irak dalam Perang Teluk tahun 1991, proses perdamaian mulai serius dilakukan, dimulai dari Perjanjian Oslo tahun 1993. Perjanjian ini akhirnya membawa Arafat, Yitzak Rabin, dan Shimon Peres memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1994.
10 tahun setelah menerima gelar prestisius tersebut, Yasser meninggal dunia. Sebelumnya, pria dengan penampilan khas ini mengalami sakit parah yang membuatnya harus diterbangkan ke sebuah RS militer di Prancis. Tim medis gabungan tidak dapat menyimpulkan penyebab kematian Yasser. Pada laporannya, mereka hanya menyebutkan adanya ‘pendarahan otak yang hebat’ dan ‘misterius’. Namun pada perkembangannya, ditemukan fakta baru bahwa Yasser dibunuh dengan sejenis racun bernama Thallium. Ia meninggal pada usia 75 tahun.
Profil singkat Yasser Arafat:
Nama lengkap : Mohammed Yasser Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini
Nama beken : Yasser Arafat
Tempat / Tanggal lahir : Kairo / 24 Agustus 1929
Gelar : Nobel Perdamaian 1994
Jabatan terakhir : Presiden Palestina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar